Selasa, 22 Mei 2012

PERLUKAH EMANSIPASI WANITA



Sebelumnya saya jelaskan terlebih dahulu, saya bukanlah cendekiawan yang pemikirannya sudah dipakai dimana-mana, bahkan lulus sarjana pun belum.  Ini hanyalah unek-unek dari seorang mahasiswa, jadi jika terdapat banyak kesalahan, ketidaktepatan pemikiran, saya mohon maaf.
Baiklah, kita mulai.  Perlukah adanya emansipasi wanita?

Tentu untuk sebagian orang, tanpa berfikir, dalam hitungan detik mereka akan menjawab itu perlu.  Tapi apakah memang perlu? Bagaimana fenomena emansipasi yang terjadi sebenarnya? (dalam kacamata saya)

Emansipasi saya artikan dengan persamaan derajat. Apa yang disamakan? Derajatnya? Perlakuan di masyarakat? Apakah memang bisa untuk disamakan? 


Dulu RA Kartini berjuang untuk hal ini. Bukan saya tidak menghormati jasa beliau yang sangat besar tersebut, tapi bagaimana penerus beliau berkecimpung dalam hal yang beliau perjuangkan tersebut.  Sekarang pertanyaannya maukah para wanita disamakan dengan pria? Wanita selalu menuntut agar diberi hak yang sama dengan pria. Mendapat pendidikan, pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh pria, atau hal lainnya. Tapi kebanyakan malah mereka sendiri yang menolak emansipasi tersebut.  Misalnya ada keadaan sebuah mobil macet, dan perlu untuk didorong, pasti wanita menyuruh pria untuk mendorong. Kasus lain, jika ada wanita dalam bus dalam keadaan berdiri, sedangkan disitu ada pria yg duduk, biasanya hal ini akan dipermasalahkan oleh wanita. Bagaimana ini? Kalau memang ada emansipasi, kenapa yang harus mendorong mobil itu pria? Kenapa harus protes ketika pria membiarkan seorang wanita berdiri dalam bus dan dia hanya duduk saja? Kecuali jika terdapat perbedaan umur atau keadaan lain misalnya hamil atau memang sakit, itu baru keterlaluan. Kalau memang ingin disamakan, yasudah, kami (pria) beri kalian perlakuan yang sama. Dan ketika kami memberi perlakuan yang sama, jangan terus kalian mengingkarinya dan merasa harus diberi perlakuan yang berbeda atau dispesialkan. Apa gunanya perjuangan RA Kartini dari dulu?

Ada seseorang yang bilang pada saya, “emansipasi itu hanya dalam bidang pendidikan dan pekerjaan”. Jadi wanita bisa mendapat pekerjaan dan pendidikan yang sama dengan pria. Begitu kira-kira. Ini apa maksudnya? Kalian (wanita) Cuma ingin enaknya tanpa menerima semua? Padahal kalian selalu menghujat kami jika kami melakukan hal serupa. Misalnya, kami mau enaknya dan tidak mau susahnya, kami menghamili kalian, terus kabur. Bagaimana kalian? Menghujati kami dengan  makian-makian mungkin. Tapi kalian telah menghamili kami dan kabur dalam hal ini.
Ini juga melebar ke Negara. Kenapa ada Komnas perlindungan wanita? Badan bentukan Negara tersebut katanya melindungi dan memperjuangkan hak-hak wanita. Hak yang mana? Bukankah kita telah diberi hak yang sama? Oh mungkin tidak, ketika wanita merasa mendapati haknya terampas, mereka ada tempat untuk mengadu, ya Komnas wanita tersebut. Tapi jika pria yang merasa telah dirampas haknya, hendak mengadu kemana kami? Kenapa tidak dibentuk juga Komnas perlindungan pria? Mana yang disebut persamaan dalam hal ini? Bukankah malah seharusnya harus diadakan juga emansipasi pria?

Wanita selalu ingin disamakan awalnya, dalam prosesnya berubah menjadi dispesialkan. Saya kira itu hal yang sangat berbeda. Spesial itu memberi perlakuan yang tidak sama. Tetapi kemudian mereka marah jika tidak disamakan. “mentang-mentang kami wanita?” biasanya begitu kalau terdapat keadaan dimana wanita tidak disamakan dengan pria.

Jadi menurut saya, wanita dan pria itu berbeda, susah untuk disamakan, tetapi jangan lalu menspesialkan diri sendiri juga. Buatlah simbosis mutualisme. Ini akan berantai ke seluruh populasi manusia di dunia. Hormati hak dan kewajiban masing-masing individu, sesame atau berbeda gender. Ketika pria meminta bantuan wanita untuk membawakan suatu beban berupa barang mungkin, maka dia juga harus mau jika diminta menanak nasi dirumah. Begitu pula jika wanita meminta bantuan pria untuk membuatkan minum untuk tamu, maka dia juga harus mau ketika diminta untuk mendorong mobil pada saat mobil macet.  Alangkah indahnya dunia jika terjadi hal semacam itu.

Yang perlu diketahui juga, wanita itu ingin dimengerti, tapi mereka mungkin susah untuk mengerti sesamanya terlebih mengerti pria. Ada Band punya andil besar dalam masalah ini. Mereka membuat lagu yang mensugesti wanita agar selalu diperlakukan spesial. Tolong diingat, tidak semua pria punya indra ke 6 yang selalu bisa mengerti apa yang dimaukan wanita. Jika menginginkan sesuatu yang dilakukan pria untuknya, sesusah itu kah untuk mengatakan hal tersebut? Kemudian jika pria tidak bisa melakukan sesuai yang diharapkan oleh wanita, apakah hal ini seberat kasus korupsi nazarudin atau nurdin halid? Sekai lagi, tidak semua pria itu supermen yang selalu siap kapan saja, selalu membahagiakan manusia di bumi dengan menumpas semua kejahatan. 

Bagaiana dengan pria? Setahu saya, pria lebih mengerti dan menerima dalam berbagai hal. Apakah karena saya seorang pria lalu mengatakan hal tersebut? Ya. Saya kira itu tidak melebih-lebihkan, itu yang saya lihat, menurut kacamata saya.

Sekali lagi ini hanya sebuah pemikiran seorang mahasiswa dengan segala keterbatasannya, jadi jika terdapat perbedaan pendapat, bagian yang  salah, hal yang menurut anda tidak benar, untuk saya itu adalah hal yang wajar. Jika ingin menanggapi, meresapi, membiarkan, mengacuhkan, menghujat dll tulisan ini, itu urusan anda, hak anda, dan terserah anda.



1 komentar:

  1. Sekali lagi ini hanya sebuah pemikiran seorang mahasiswa dengan segala keterbatasannya, jadi jika terdapat perbedaan pendapat, bagian yang salah, hal yang menurut anda tidak benar, untuk saya itu adalah hal yang wajar. Jika ingin menanggapi, meresapi, membiarkan, mengacuhkan, menghujat dll tulisan ini, itu urusan anda, hak anda, dan terserah anda. pendidikan sebagai kunci peran penguatan perempuan

    BalasHapus

Share