Baiklah, kita mulai. Perlukah adanya emansipasi wanita?
Tentu untuk sebagian orang, tanpa
berfikir, dalam hitungan detik mereka akan menjawab itu perlu. Tapi apakah memang perlu? Bagaimana fenomena
emansipasi yang terjadi sebenarnya? (dalam kacamata saya)
Emansipasi saya artikan dengan
persamaan derajat. Apa yang disamakan? Derajatnya? Perlakuan di masyarakat? Apakah
memang bisa untuk disamakan?
Dulu RA Kartini berjuang untuk
hal ini. Bukan saya tidak menghormati jasa beliau yang sangat besar tersebut,
tapi bagaimana penerus beliau berkecimpung dalam hal yang beliau perjuangkan
tersebut. Sekarang pertanyaannya maukah
para wanita disamakan dengan pria? Wanita selalu menuntut agar diberi hak yang
sama dengan pria. Mendapat pendidikan, pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh
pria, atau hal lainnya. Tapi kebanyakan malah mereka sendiri yang menolak
emansipasi tersebut. Misalnya ada
keadaan sebuah mobil macet, dan perlu untuk didorong, pasti wanita menyuruh
pria untuk mendorong. Kasus lain, jika ada wanita dalam bus dalam keadaan
berdiri, sedangkan disitu ada pria yg duduk, biasanya hal ini akan
dipermasalahkan oleh wanita. Bagaimana ini? Kalau memang ada emansipasi,
kenapa yang harus mendorong mobil itu pria? Kenapa harus protes ketika pria
membiarkan seorang wanita berdiri dalam bus dan dia hanya duduk saja? Kecuali jika
terdapat perbedaan umur atau keadaan lain misalnya hamil atau memang sakit, itu
baru keterlaluan. Kalau memang ingin disamakan, yasudah, kami (pria) beri kalian
perlakuan yang sama. Dan ketika kami memberi perlakuan yang sama, jangan terus
kalian mengingkarinya dan merasa harus diberi perlakuan yang berbeda atau
dispesialkan. Apa gunanya perjuangan RA Kartini dari dulu?
Ada seseorang yang bilang pada
saya, “emansipasi itu hanya dalam bidang pendidikan dan pekerjaan”. Jadi wanita
bisa mendapat pekerjaan dan pendidikan yang sama dengan pria. Begitu kira-kira.
Ini apa maksudnya? Kalian (wanita) Cuma ingin enaknya tanpa menerima semua? Padahal
kalian selalu menghujat kami jika kami melakukan hal serupa. Misalnya, kami mau
enaknya dan tidak mau susahnya, kami menghamili kalian, terus kabur. Bagaimana kalian?
Menghujati kami dengan makian-makian
mungkin. Tapi kalian telah menghamili kami dan kabur dalam hal ini.
Ini juga melebar ke Negara. Kenapa
ada Komnas perlindungan wanita? Badan bentukan Negara tersebut katanya
melindungi dan memperjuangkan hak-hak wanita. Hak yang mana? Bukankah kita
telah diberi hak yang sama? Oh mungkin tidak, ketika wanita merasa mendapati
haknya terampas, mereka ada tempat untuk mengadu, ya Komnas wanita tersebut. Tapi
jika pria yang merasa telah dirampas haknya, hendak mengadu kemana kami? Kenapa
tidak dibentuk juga Komnas perlindungan pria? Mana yang disebut persamaan dalam
hal ini? Bukankah malah seharusnya harus diadakan juga emansipasi pria?
Wanita selalu ingin disamakan
awalnya, dalam prosesnya berubah menjadi dispesialkan. Saya kira itu hal yang
sangat berbeda. Spesial itu memberi perlakuan yang tidak sama. Tetapi kemudian
mereka marah jika tidak disamakan. “mentang-mentang kami wanita?” biasanya
begitu kalau terdapat keadaan dimana wanita tidak disamakan dengan pria.
Jadi menurut
saya, wanita dan pria itu berbeda, susah untuk disamakan, tetapi jangan lalu
menspesialkan diri sendiri juga. Buatlah simbosis mutualisme. Ini akan berantai
ke seluruh populasi manusia di dunia. Hormati hak dan kewajiban masing-masing
individu, sesame atau berbeda gender. Ketika pria meminta bantuan wanita untuk
membawakan suatu beban berupa barang mungkin, maka dia juga harus mau jika
diminta menanak nasi dirumah. Begitu pula jika wanita meminta bantuan pria
untuk membuatkan minum untuk tamu, maka dia juga harus mau ketika diminta untuk
mendorong mobil pada saat mobil macet. Alangkah
indahnya dunia jika terjadi hal semacam itu.
Yang perlu
diketahui juga, wanita itu ingin dimengerti, tapi mereka mungkin susah untuk
mengerti sesamanya terlebih mengerti pria. Ada Band punya andil besar dalam
masalah ini. Mereka membuat lagu yang mensugesti wanita agar selalu
diperlakukan spesial. Tolong diingat, tidak semua pria punya indra ke 6 yang
selalu bisa mengerti apa yang dimaukan wanita. Jika menginginkan sesuatu yang
dilakukan pria untuknya, sesusah itu kah untuk mengatakan hal tersebut? Kemudian
jika pria tidak bisa melakukan sesuai yang diharapkan oleh wanita, apakah hal
ini seberat kasus korupsi nazarudin atau nurdin halid? Sekai lagi, tidak semua
pria itu supermen yang selalu siap kapan saja, selalu membahagiakan manusia di
bumi dengan menumpas semua kejahatan.
Bagaiana dengan
pria? Setahu saya, pria lebih mengerti dan menerima dalam berbagai hal. Apakah karena
saya seorang pria lalu mengatakan hal tersebut? Ya. Saya kira itu tidak
melebih-lebihkan, itu yang saya lihat, menurut kacamata saya.
Sekali lagi ini
hanya sebuah pemikiran seorang mahasiswa dengan segala keterbatasannya, jadi
jika terdapat perbedaan pendapat, bagian yang salah, hal yang menurut anda tidak benar,
untuk saya itu adalah hal yang wajar. Jika ingin menanggapi, meresapi,
membiarkan, mengacuhkan, menghujat dll tulisan ini, itu urusan anda, hak anda,
dan terserah anda.


Sekali lagi ini hanya sebuah pemikiran seorang mahasiswa dengan segala keterbatasannya, jadi jika terdapat perbedaan pendapat, bagian yang salah, hal yang menurut anda tidak benar, untuk saya itu adalah hal yang wajar. Jika ingin menanggapi, meresapi, membiarkan, mengacuhkan, menghujat dll tulisan ini, itu urusan anda, hak anda, dan terserah anda. pendidikan sebagai kunci peran penguatan perempuan
BalasHapus