Sudah menjadi
kodratnya bahwa manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas. Makhluk
yang selalu ingin lebih. Sudah mandapat yang diinginkan, tetapi akan selalu
mengharap yang lebih baik, dan lebih baik lagi. Bahkan walaupun sudah mendapat
yang terbaik, manusia akan tetap ingin mendapatkan hal lain yang sudah jelas
diketahuinya tidak lebih baik dari yang dimilikinya. Atau bisa saja faktor
subjektif, karena yang (dulu diangap)
terbaik sudah dimiliki, hal tersebut tidak lagi menjadi yang terbaik bagi
dirinya. Yang dulu dianggap tidak lebih baik, sekarang dianggapnya hal yg lebih
baik dari yang terbaik yang sudah dimilikinya. Yah, begitulah manusia. Tidak
akan pernah terpuaskan dengan berbagai macam hal.
Banyak orang
yang suka mengeluh tentang bagaimana org lain diluar dirinya yang selalu merasa
kurang dan kurang. Padahal tanpa disadari itu adalah hal yang sangat sangat
manusiawi. Jarang sekali ditemui individu yang merasa cukup dengan hal yang
dimilikinya. Dulu berharap sekali memiliki sebuah handphone, dan sekarang sudah
punya. Kemudian berlanjut ke laptop, lanjut lagi ke sepeda motor, mobil, tanah
pekarangan, rumah, rumah yang ada kolam renangnya, rumah di daerah ini-itu, dan
seterusnya. Cuma mungkin bedanya mereka
tidak mengungkakan, dan org lain mengungkapkannya pada mereka. Atau malah mereka mengungkapkan kepada orang
lain tetapi mereka mengeluhkan orang lain yang mengungkapan hal tersebut pada
mereka sendiri.
Lalu bagaimana mengatasinya?
Perlu tidak untuk mengatasi hal tersebut?
Ini tergantung
dari masing-masing individu. Untuk kelompok individu tertentu hal ini menjadi
sebuah pemicu untuk mendapatkan sesuau yang diinginkannya. Tapi untuk kelompok
lain, hal ini menjadi sebuah sifat yang bertentangan dan jauh dari rasa
bersyukur. Banyak orang meyarankan bersyukur, bersyukur, syukuri apa yang telah
didapat. Dan kebanyakan langsung mengucap Alhamdulillah. Tetapi saya rasa tidak
banyak yang mengucap Alhamdulillah diikuti hati yang merasa cukup. Ucapan
hamdalah hanya ucapan saja, tetapi hati mereka atau bahkan setelah mengucap
hamdalah pun mereka masih mengeluhkan suatu kekurangan yang tadi sudah
disyukurinya.
Sebagai manusia,
saya juga merasakan seperti itu, merasa ingin dapat yang lebih dan lebih.
Tetapi saya tetap berusaha untuk bersyukur atas apa yang sudah saya dapat.
Jangan selalu melihat ke atas, belum tentu kanan-kiri kita mendapatkan apa yang
kita dapat, apalagi yang dibawah kita? Suatu keinginan memang perlu untuk
menjadi alat pacu suatu tujuan tertentu, tetapi tidak semua keinginan dapat kita
dapat. Ini sudah ada yang mengatur. Saya percaya itu. Bukan tidak mau berusaha,
tetapi melihat realita.
Ini hanya
pendapat saya sebagai manusia biasa berdasarkan pemikiran saya sendiri. Jika
anda memikirkan hal lain yang bertentangan dengan ini, itu terserah anda,
menerima dan menghargai pendapat orang lain itu hal yang mudah tetapi susah.
Bersyukurlah…
kemudian hati saya berkata : hei, kamu mengeluh namanya
dan saya hanya menjawab, yaak, saya adalah bagian dari orang-orang seperti yang saya katakan tadi
dan saya hanya menjawab, yaak, saya adalah bagian dari orang-orang seperti yang saya katakan tadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar