Rabu, 02 Mei 2012

PERSEPSI BERSYUKUR

Sudah menjadi kodratnya bahwa manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas. Makhluk yang selalu ingin lebih. Sudah mandapat yang diinginkan, tetapi akan selalu mengharap yang lebih baik, dan lebih baik lagi. Bahkan walaupun sudah mendapat yang terbaik, manusia akan tetap ingin mendapatkan hal lain yang sudah jelas diketahuinya tidak lebih baik dari yang dimilikinya. Atau bisa saja faktor subjektif, karena yang  (dulu diangap) terbaik sudah dimiliki, hal tersebut tidak lagi menjadi yang terbaik bagi dirinya. Yang dulu dianggap tidak lebih baik, sekarang dianggapnya hal yg lebih baik dari yang terbaik yang sudah dimilikinya. Yah, begitulah manusia. Tidak akan pernah terpuaskan dengan berbagai macam hal.

Banyak orang yang suka mengeluh tentang bagaimana org lain diluar dirinya yang selalu merasa kurang dan kurang. Padahal tanpa disadari itu adalah hal yang sangat sangat manusiawi. Jarang sekali ditemui individu yang merasa cukup dengan hal yang dimilikinya. Dulu berharap sekali memiliki sebuah handphone, dan sekarang sudah punya. Kemudian berlanjut ke laptop, lanjut lagi ke sepeda motor, mobil, tanah pekarangan, rumah, rumah yang ada kolam renangnya, rumah di daerah ini-itu, dan seterusnya.  Cuma mungkin bedanya mereka tidak mengungkakan, dan org lain mengungkapkannya pada mereka.  Atau malah mereka mengungkapkan kepada orang lain tetapi mereka mengeluhkan orang lain yang mengungkapan hal tersebut pada mereka sendiri.
Lalu bagaimana mengatasinya? Perlu tidak untuk mengatasi hal tersebut?           

Ini tergantung dari masing-masing individu. Untuk kelompok individu tertentu hal ini menjadi sebuah pemicu untuk mendapatkan sesuau yang diinginkannya. Tapi untuk kelompok lain, hal ini menjadi sebuah sifat yang bertentangan dan jauh dari rasa bersyukur. Banyak orang meyarankan bersyukur, bersyukur, syukuri apa yang telah didapat. Dan kebanyakan langsung mengucap Alhamdulillah. Tetapi saya rasa tidak banyak yang mengucap Alhamdulillah diikuti hati yang merasa cukup. Ucapan hamdalah hanya ucapan saja, tetapi hati mereka atau bahkan setelah mengucap hamdalah pun mereka masih mengeluhkan suatu kekurangan yang tadi sudah disyukurinya.

Sebagai manusia, saya juga merasakan seperti itu, merasa ingin dapat yang lebih dan lebih. Tetapi saya tetap berusaha untuk bersyukur atas apa yang sudah saya dapat. Jangan selalu melihat ke atas, belum tentu kanan-kiri kita mendapatkan apa yang kita dapat, apalagi yang dibawah kita? Suatu keinginan memang perlu untuk menjadi alat pacu suatu tujuan tertentu, tetapi tidak semua keinginan dapat kita dapat. Ini sudah ada yang mengatur. Saya percaya itu. Bukan tidak mau berusaha, tetapi melihat realita.

Ini hanya pendapat saya sebagai manusia biasa berdasarkan pemikiran saya sendiri. Jika anda memikirkan hal lain yang bertentangan dengan ini, itu terserah anda, menerima dan menghargai pendapat orang lain itu hal yang mudah tetapi susah. Bersyukurlah…

kemudian hati saya berkata : hei, kamu mengeluh namanya

dan saya hanya menjawab, yaak, saya adalah bagian dari orang-orang seperti yang saya katakan tadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share