Rabu, 05 Desember 2012

Seorang Gono

                Gono, seorang pemuda 27 tahun, sudah hampir sebulan ini selalu bermuram durja. Yang biasanya sehari makan 3 kali, sekarang jadi 2 kali, bahkan 7 kali. Omen, teman Gono dari daerah yang sama, jalan yang sama, kasur yang sama tapi rumah yang berbeda, prihatin atas keadaan temannya ini. Setiap kali didekati, baru mau tanya,sudah disodorkan telapak tangan dengan 5 jarinya yang membuka, “ada lima kelebihan!!”, oh bukan, “ngomong sama tangan!!”.
                Omen bingung bukan kepalang. Dipikir-pikir, Gono itu sudah kerja mapan, gaji oke. Dirumah, hubungan sama orang tua juga baik-baik saja. Tapi ternyata Gono belum punya pasangan. Masih melajang di usianya yang kata orang sudah cukup matang ini. Sebuah titik terang ke arah kebuntuan ditemui Omen. Memang Gono masih sendiri, tapi dengan perawakannya yang seperti Tom Cruise, badan kekar, muka macho, mata tajam, suara ngebass serak-serak luber, pasti gampang banget bagi Gono buat dapetin perempuan sekelas Dian Sastro, minimal Dorce.
               

Selasa, 22 Mei 2012

PERLUKAH EMANSIPASI WANITA



Sebelumnya saya jelaskan terlebih dahulu, saya bukanlah cendekiawan yang pemikirannya sudah dipakai dimana-mana, bahkan lulus sarjana pun belum.  Ini hanyalah unek-unek dari seorang mahasiswa, jadi jika terdapat banyak kesalahan, ketidaktepatan pemikiran, saya mohon maaf.
Baiklah, kita mulai.  Perlukah adanya emansipasi wanita?

Tentu untuk sebagian orang, tanpa berfikir, dalam hitungan detik mereka akan menjawab itu perlu.  Tapi apakah memang perlu? Bagaimana fenomena emansipasi yang terjadi sebenarnya? (dalam kacamata saya)

Emansipasi saya artikan dengan persamaan derajat. Apa yang disamakan? Derajatnya? Perlakuan di masyarakat? Apakah memang bisa untuk disamakan? 

Jumat, 04 Mei 2012

'yah' VS 'nah'


Sebuah persepsi tentang suatu ungkapan, ‘yah’ dan ‘nah.

‘Nah’ biasanya  digunakan ketika kita mengiyakan atau menyetujui sesuatu hal atau tindakan. “nah begitu lho” “nah iya bener”. Bisa juga ‘nah’ digunakan untuk menyatakan suatu kesimpulan, atau untuk mengakhiri suatu statement.  “nah, oleh karena….”. Semacam itu kira-kira.

‘Yah’ biasanya dan hampir selalu digunakan untuk mengungkapkan nada kekesalan, kekecewaan atas tidak terpenuhinya sesuatu yang kita harapkan atau inginkan. Dalam pengucapannya, ‘nah’ hampir selalu diikuti dengan nada minor dan ekspresi lain yang menunjukkan suasana hati sedang tidak baik.
Dalam perkembangannya, semakin dewasa, menurut saya, orang lebih memilih mendapatkan ‘yah’ daripada suatu ‘nah’. Kenapa demikian?

Rabu, 02 Mei 2012

PERSEPSI BERSYUKUR

Sudah menjadi kodratnya bahwa manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas. Makhluk yang selalu ingin lebih. Sudah mandapat yang diinginkan, tetapi akan selalu mengharap yang lebih baik, dan lebih baik lagi. Bahkan walaupun sudah mendapat yang terbaik, manusia akan tetap ingin mendapatkan hal lain yang sudah jelas diketahuinya tidak lebih baik dari yang dimilikinya. Atau bisa saja faktor subjektif, karena yang  (dulu diangap) terbaik sudah dimiliki, hal tersebut tidak lagi menjadi yang terbaik bagi dirinya. Yang dulu dianggap tidak lebih baik, sekarang dianggapnya hal yg lebih baik dari yang terbaik yang sudah dimilikinya. Yah, begitulah manusia. Tidak akan pernah terpuaskan dengan berbagai macam hal.

Banyak orang yang suka mengeluh tentang bagaimana org lain diluar dirinya yang selalu merasa kurang dan kurang. Padahal tanpa disadari itu adalah hal yang sangat sangat manusiawi. Jarang sekali ditemui individu yang merasa cukup dengan hal yang dimilikinya. Dulu berharap sekali memiliki sebuah handphone, dan sekarang sudah punya. Kemudian berlanjut ke laptop, lanjut lagi ke sepeda motor, mobil, tanah pekarangan, rumah, rumah yang ada kolam renangnya, rumah di daerah ini-itu, dan seterusnya.  Cuma mungkin bedanya mereka tidak mengungkakan, dan org lain mengungkapkannya pada mereka.  Atau malah mereka mengungkapkan kepada orang lain tetapi mereka mengeluhkan orang lain yang mengungkapan hal tersebut pada mereka sendiri.
Lalu bagaimana mengatasinya? Perlu tidak untuk mengatasi hal tersebut?           

HUKUM ADALAH SENI DAN KEKUASAAN, TAPI BUKAN SOSIOLOGI

Hukum adalah seni. Bagaimana bisa sebuah hukum dapat dikatakan sebagai seni? Hukum adalah karya manusia, hasil cipta dari pemikiran manusia, yang berarti hukum adalah suatu kebudayaan yang diciptakan dan dibawa oleh nenek moyang kita yang mengatur sebuah tatanan kehidupan, sanksi atas pelanggaran yang dilakukan dan hak-hak yang diperoleh dari setiap subjek hukum.  Lalu apakah subjek hukum itu sendiri? Subjek hukum adalah pihak baik manusia maupun badan yang bisa dikenai hak dan kewajiban atas hukum.  Disini yang dimaksud manusia adalah benar-benar manusia, dari kandungan yang merupakan calon manusia, sampai meninggal saat hanya tubuh kosong tanpa nyawa yang dikatakan sebagai manusia.  Begitulah bagaimana hukum benar-benar mengatur secara rinci tentang pelaku tatanan kehidupan.  


Minggu, 29 April 2012

DILARANG MEROKOK DI INDONESIA??!!!!


Banyak yg menyuarakan tentang pelarangan rokok di Indonesia.  Secara ekstrem malah menyarankan pemerintah untuk menutup pabrik rokok yang ada di Indonesia. Ketika dihadapkan dengan pertanyaan "bagaimana dengan nasib para pekerja?", dengan lantangnya menjawab "cari lah pekerjaan lain, banyak ko pekerjaan lain yg masih bisa mereka kerjakan selain bekerja di pabrik rokok".  Pengangguran di Indonesia sudah jutaan, dan akan bertambah ratusan ribu per tahunnya.  Haruskah ditambah dengan para buruh rokok itu? (jika benar pabriknya ditutup)

"Lalu bagaimana?????
Kami yang bukan perokok merasa terganggu haknya dengan kehadiran perokok itu.  Belum lagi asapnya yang mencemari lingkungan, bukannya kita sedang menggalakkan 'go green'?"

Share